Perjalanan
hidup manusia di dunia ini pada dasarnya adalah upaya membangun kedekatan
kepada Tuhannya. Dan Allah sendiri telah memproklamirkan Dirinya, bahwa Ia dekat dengan hambaNya.
وَإِذَا
سَأَلَكَ عِبَادِي عَنِّي فَإِنِّي قَرِيبٌ
Apabila hambaKu bertanya kepadamu (Muhammad), katakan, Aku dekat (al-Baqarah :
186)
Bahkan saking
dekatnya Tuhan kepada hambaNya, digambarkan kedekatanNya melebihi urat leher
manusia itu sendiri.
وَنَحْنُ أَقْرَبُ إِلَيْهِ
مِنْ حَبْلِ الْوَرِيدِ
Dan kami lebih dekat dari padanya dari urat lehernya (Qaaf : 16). Sebuah kedekatannya yang teramat melekat, bahkan
tiada jarak sama sekali. Lalu bagaimana
Allah dekat dan hadir dalam kehidupan manusia? Ada banyak kisah dan jalan
tentunya, yang dapat kita lakoni.
وَالَّذِينَ جَاهَدُوا
فِينَا لَنَهْدِيَنَّهُمْ سُبُلَنَا وَإِنَّ اللهَ لَمَعَ الْمُحْسِنِينَ
Dan orang-orang yang bersungguh-sungguh berjuang (mencari
keridhaan) Kami, benar-benar akan Kami tunjukkan kepada mereka jalan-jalan
Kami.Dan sesungguhnya Allah benar-benar beserta orang-orang yang berbuat baik (al-Ankabut:69)
Jamaah Sholat Jumat yang dirahmati Allah
Kedekatan
Allah kepada hambaNya meniscayakan keridhaan Allah atas segala persembahan yang
tulus, perjuangan dan penghayatan hidup yang ia jalani. Sering kali Allah menyatakan
diriNya hadir justru pada orang-orang atau situasi-situasi sulit yang tidak
menyenangkan. Allah bersama orang-orang yang teraniaya dan tersakiti. Allah
bersama orang-orang yang sabar yang kuat menahan perihnya penderitaan dan
kesusahan.
Nabi Saw juga
sering kali menyatakan pembelaannya kepada kemalangan dan keprihatinan. “Aku
dan seorang wanita yang kulit dan pipinya telah hitam karena terbakar matahari
akan berdekatan satu sama lain di akhirat seperti dua jariku, dan ia adalah
seorang janda tangguh, yang kulit dan pipinya menghitam karena menghidupi
keluarganya.” Demikian salah satu sabdanya.
Dan tidak
jarang pula Allah merepresentasikan diriNya pada orang-orang yang lemah dan membutuhkan
bantuan. Saat seorang hamba yang ingin membangun kedekatannya kepada Tuhannya,
pada merekalah ia mendatanginya. Dalam sebuah hadits qudsi Allah berfirman:
“Wahai anak adam, Aku sakit, mengapa engkau tidak mengunjungi-Ku?” Anak Adam
berkata: “Wahai Tuhan, bagaimana aku mengunjungi-Mu sedang Engkau adalah Tuhan
semesta alam”. Kemudian Allah berfirman: “ Tidakkah engkau mengetahui bahwa hambaku
si Anu sedang sakit, dan engkau tidak mengunjunginya? Tidakkah engkau tahu
bahwa seandainya engkau mengunjunginya, niscaya engkau akan menemukan-Ku di
sana?” Dan Allah berkata: “Wahai anak adam, Aku meminta makan darimu, tapi
engkau tidak memberi-Ku makan.” Anak adam berkata: “Bagaimana aku memberi-Mu
makan, sedangkan Engkau adalah Tuhan semesta alam.” Kemudian Allah berfirman:
“Tidakkah engkau tahu bahwa hambaku si Anu telah meminta kepadamu makan, tapi
engkau tidak memberinya makan. Tidak kah engkau mengetahui bahwa seandainya
engkau memberinya makan, niscaya engkau akan mendapatkan (ganjarannya) di
sisi-Ku.”
Hadits qudsi
di atas memberikan isyarat bahwa Tuhan mengejewantah Diri-Nya lewat kisah
manusia melalui tindakan dan perbuatannya yang berguna dan maslahat untuk
kemanusiaan dan kehidupan. Hadirnya Allah akan terasa bersama dengan hadirnya
perilaku dan tindakan manusia yang memberi, menghidupi وَهُوَ يُطْعِمُ وَلاَيُطْعَمُ
dan Dia (Allah) yang memberi makan, dan tidak diberi makan.
Tuhan yang
Maha Rahman dan Rahim akan mengejewantah nyata dengan tindakan manusia yang
pengasih dan penyayang juga kepada sesama. Empat pokok ajaran sunan drajat berikut akan menjadi panduan bagi tindakan manusia yang bernilai
ketuhanan, antara lain: paringono
taken marang kang kaluyon lan wuta, paringono pangan marang kang kaliren, paringono
sandang marang kang kawudan, paringono payung kang kodanan. Yakni memberikan tongkat
kepada orang buta, memberikan makan kepada yang kelaparan. memberikan pakaian
kepada yang telanjang, dan memberikan payung kepada yang kehujanan.
Jamaah Sholat Jumat yang dirahmati Allah
Makna kehadiran Tuhan akan lebih terhayati juga pada fenomena hidup yang dzohirnya
kita anggap buruk dan tidak sempurna. Akan tetapi justru dari situ sesuatu yang
sempurna bisa tercipta. Berapa banyak orang yang buta penglihatannya, tetapi mereka
lebih banyak melihat dibanding orang-orang yang sehat penglihatan dua matanya.
Berapa banyak juga orang yang tidak lengkap tangan atau kakinya, akan tetapi
mereka bisa mencipta karya bahkan melebihi orang yang lengkap kedua tangan dan
kakinya. Merekalah sejatinya para pemenang kehidupan karena ditengah
keterbatasan, mereka melakukan sesuatu yang kadang melampaui batasan
orang-orang yang yang mempunyai fisik sempurna.
Sesuatu yang terlihat ganjil pada ciptaan Allah, tidak semestinya dianggap
tidak sempurna. Karena jika Allah yang menghendaki sesuatu tercipta dalam
keadaan ganjil, maka beragam cara Allah sendiri yang akan menggenapinya.
Sebagaimana kisah seseorang yang bertemu dengan orang tua buta dan seorang anak
kecil di tengah hutan. Seseorang tersebut mengeluh kepada Tuhan. “Ya Allah,
tidak ada yang akan menolong mereka di tengah hutan seperti ini, yang satu
orang tua buta dan satunya lagi masih kecil”. Allah menyindir seseorang
tersebut, “bukan nya kamu ada di situ, dan kamu bisa menolongnya”. Seseorang
tersebut baru menyadarinya bahwa Allah menghadirkan dirinya di situ untuk
menolong orang tua buta dan anak kecil tersebut.
Dari kisah tersebut kita dapat
mengambil pelajaran, bahwa kehadiran Tuhan akan bermakna dan terasa apabila
kita terlibat dalam menggenapi keganjilan, menutupi kekurangan, melengkapi
ketidaksempurnaan. Inilah makna kehadiran Tuhan. Tuhan hadir lewat kisah
manusia dalam mencipta dan mempersembahkan cinta dan kasih sayangnya kepada
semesta
Tidak ada komentar:
Posting Komentar